MANUSIA
dan KEINDAHAN
FIKRI AZHARI RABBANI
12117345
12117345
KEINDAHAN
Keindahan atau keelokan merupakan sifat dan ciri dari orang, hewan, tempat,
objek, atau gagasan yang memberikan pengalaman persepsi kesenangan, bermakna,
atau kepuasan. Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia, keindahan diartikan sebagai keadaan yang
enak dipandang, cantik, bagus benar atau elok. Keindahan dipelajari sebagai bagian
dari estetika, sosiologi, psikologi sosial, dan budaya. Sebuah “kecantikan yang
ideal” adalah sebuah entitas yang dikagumi, atau memiliki fitur yang dikaitkan
dengan keindahan dalam suatu budaya tertentu, untuk kesempurnaannya. Pengalaman
“keindahan” sering melibatkan penafsiran beberapa entitas yang seimbang dan
selaras dengan alam, yang dapat menyebabkan perasaan daya tarik dan
ketenteraman emosional. Karena ini adalah pengalaman subyektif, sering
dikatakan bahwa beauty is in the eye of the beholder atau “keindahan itu
berada pada mata yang melihatnya.
Kata benda Yunani klasik untuk “keindahan
” adalah κάλλος, kallos, dan kata sifat untuk “indah” itu καλός, kalos.
Kata bahasa Yunani Koine untuk indah itu ὡραῖος, hōraios, kata sifat
etimologis berasal dari kata ὥρα, hora, yang berarti “jam.” Dalam bahasa
Yunani Koine, keindahan demikian dikaitkan dengan “berada di jam (waktu) yang
sepatutnya.
Sebuah buah yang matang (pada waktunya)
dianggap indah, sedangkan seorang wanita muda mencoba untuk tampil lebih tua
atau seorang wanita tua mencoba untuk tampil lebih muda tidak akan dianggap
cantik. Dalam bahasa Yunani Attic, hōraios memiliki banyak makna, termasuk
“muda” dan “usia matang.
Dalam hukum keindahan, keindahan itu
sendiri relative sifatnya,berubah-ubah, dan selalu disesuaikan atau dihentikan
penilaiannya oleh dan dengan selera pengagum keindahan tersebut. Menurut si A,
sesuai lukisan itu indah, namun si B, mengatakan lukisan itu tidak indah.
Sejauhmana perbedaan pengamatan jurus pandang antara si A dan si B terhadap
suatu lukisan? Jawabanya ditentukan oleh selera masing-masing. Bahasa
tentang pengertian keindahan terkait erat dengan visualitas dan perasaan.
Dalam hal ini terdapat semacam gerak bersamaan secara refles antara
pandangan dan penglihatan dengan perasaan. Misalnya,sesuatu lukisan itu
indah.begitu mata melihat lukisan itu, otomatis perasaan pun turung terlibat
spontan menyatakan indah.
Laurence M. gould mengutip pendapatnya
coleritge dalam wukmir dan gopinatha (1981;43) sebagai berikut; ‘’keindahan
adalah kesatuan dan keanekaan’’.jika melihat adalah kasatuan, maka mungkin yang
dimaksud adalah pengamatan,perasaan,pemikiran, dan penginderaan pandangan serta
sasaran tujuan, kepada obye yang dikatakan indah. Selanjutnya keanekaan keindahan,
mungkin juga yang dimaksud adalah berbagai macam bentuk keindahan yang tercakup
di dalam sejumlah obyek yang dikatakan indah. Dalam pengertian structural pada
garis besarnya keindahan terdiri dari keindahan alami dan keindahan non alami.
Keindahan alami adalah keindahan. Diluar campur tangan manusia, misalnya
keindahan sang surya menjelangsenja terbenam di ufuk barat, indahnya kemilau
air laut tersentuh cahaya bulan purnama di malam hari, kemilau titi-titik embun
dipagi hari dan seterusnya.
Campur tangan manusia terhadap keindahan
alami dimungkinkan hanya terjelma dalam bentuk karya seni (seni suara, seni
music, seni tari, seni sastra, seni lukis, seni ukir, seni pahat).karena
keindahan alami adalah keindahan ciptaan maha pencipta,maka kemampuan manusia
terbatas pada mengagumi sempanjang ia masih mengakui kebesaran dan keagungan
maha cipta.
Keindahan alami tak dapat dipoles karena
esensi ;’’indah’’ terlatak didalam keindahan iti sendiri bukan diluarnya.itulah
sebabnya keindahan alami hanya terjangkau oleh kepekaan rasa yang mendalam, tak
dapat dirubah dan berubah, kecuali oleh sifat alaminya sendiri. Misalnya
dimalam hari langit yang cerah bertaburan bintang gemerlap sangat indah.
Tiba-tiba langit menjadi gelap, awam menebal pertanda hujan lebat akan turun.
Itulah salah satu kemuskilan dari kaindahan alami.
Keindahan non alami adalahkeindahan yang
mengada dengan sengaja karena campur tangan manusia. Dari kaindahan alami
ditransfer kadalam bentuk keindahan non alami melalui kemampuan peniruan manusia.
Dalam hal peniruan manusia itu, selalu didukung oleh kekuatan imajinasi dan
ispirasi, ketekunan, serta kemampuan daya serap sehingga menghasilkan suatu
karya yang dapat mengalihkan wujud keindahan alami ke dalam kanvas (seni
lukis),ritma-ritma dalam bentuk lagu (seni suara), susunan kata puisi (seni
sastra) dan sebagainya.
Walaupun tidak seasli keindahan alami
yang sebenarnya, namun kemampuan manusia (para seniman) mentrasfer keindahan
alami ke dalam berbagi wahana seni, hal itu telah berupakan suatu reduplikasi
kepuasan seni (the art of the reduplications pleasures) di dalam menghargai dan
mengagumi serta menghayati keindahan alami sesuai aslinya.
Keindahan non alami sebagai suatu
fenomena, final estimasinya teresap di dalam hasil karya sebagai reaksi dari
meleburnya visi (pengamatan) dan penginderaan agar menghasilkan kesesuaian yang
terpadu atau kemiripan yang persis,antara keindahan alami dengan
keindahan non alami.
Di sisi lain, keindahan non alami
sifatnya tidak konstan, juga tidak mengandung keabadian, sehingga melahirkan
sejumlah aliran dalam arena seni misalnya futurism, dadaisme, ekspresionisme,
pluralisme, natularisme, country, blues, rock, slow rock, dan sebagainya.
Selain itu, keindahan non alami didominasi oleh pengkaryaan manusia sehingga
menempatkan obyek di dalam keindahan non alami dalam lingkup berbagai dimensi
bercorak sektasis spektakuler.
Hal ini yang menyebabkan karya-karya seni
corak serta motif lebih diwarnai sekaligus ditentukan oleh dan bersumber dari
hasil inspirasi imajinatif si pengkarya, tanpa terikat oleh aturan-aturan yang
sangat dipaksakan berasal dari kekuasaan dan tirani, misalnya lukisan bercorak
karikatul, puisi-puisi atau lagu-lagu bertema dan bernada ironis, terkadang
sarkasis. Inilah salah satu kemampuan para seniman mentransfer keindahan alami
ke dalam lingkup keindahan non alami.
keindahan dalam asrti yang seluas-luasnya.
Keindahan itu tidak bisa disamakan dengan
materi tetapi keindahan itu adah kepuasan yang muncul dari dalam hati dan
sesuatu yang kita bayangkan karena kita ingin mencapainya, butuh waktu untuk
menimbulkan keindahan dalam diri, disaat ke indahan itu muncul maka
tercipatalah kedamaina dalam hati kita yang merasakan keindahan. Dalam
pembatasan filsafat kedua pengertian itu kadang-kadang dicampuradukkan saja
Disamping itu terdapat pula perbedaan menurnt luasnya pengertian, yakni :
1.
keindahan dalam
arti yang luas
2.
keindahan dalam
arti estetis murni
3.
keindahan dalam
arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan
Keindahan dalam arti luas merupakan pengertian semula
dari bangsa Yunani dulu yang didalamnya tercakup pula kebaikan.
Dalam arti yang luas, sebenarnya
pengertian ini masih diambil dari bangsa yunani yang didalamnya mencakup pula
kebaikan. Menurut beberapa ahli antara lain :
1.
plato
mengatakan bahwa watak yang indah adalah hokum yang indah;
2.
aristoteles
mengatakan bahwa keondahan merupakan sesuatu yang selain baik juga
menyenangkan;
3.
plotinus
menuliskan dalam bukunya tentang ilmu yang indah dan kebijakan yang indah.
Dari beberapa ahli tersebut, bangsa
Yunani tetap mengatakan bahwa keindahan adalah sesuatu ilmu dan ada yang indah
dan akan terus berlangsung.bangsa yunani lebih berbicara tentang arti keindahan
dalam arti estetik yang disebut sebagai ‘symmetria” untuk keindahan yang
berdasarkan penglihatan semata dan harmonia untuk keindahan yang berdasarkan
pendengaran. Keindahan yang seluas-luasnya meliputi :
Keindahan alam, Keindahan alam adalah keindahan yang sudah ada di alam sekitar kita.
Keindahan yang ada bisa dinikmati oleh penglihatan kita.
Keindahan moral, Keindahan moral adalah keindahan yang tercipta dari tingkah laku dan
perilaku kita sehari-hari.
Keindahan seni, Keindahan seni adalah keindahan yang tercipta dari hasil karya seseorang
tehadap seni. Seni sering sekali menjadi penghubung keindahan agar bisa
dinikmati oleh pengamat objeknya. Seseorang paling dominan menikmati keindahan
itu lewat seni.
Keindahan intelektual, keindahan intelektual adalah pemikiran yang indah berdasarkan ilmu
pengetahuan. Tulisan ini bukanlah mencari pengertian mengenai kata keindahan
intelektual.
Keindahan ini lah yang mencakup semua
nilai keindahan yang pada dasarnya mempunyai nilai tersendiri , dengan cara
pandang yang berbeda pada setiap manusia. Keindahan tersusun dari berbagai
keselarasan dan kebalikan dari garis, warna, bentuk, nada, dan kata-kata. Ada
pula yang berpendapat bahwa keindahan adalah suatu kumpulan hubungan-hubungan
yang selaras dalam suatu benda dan di antara benda itu dengan si pengamat.
Manusia menikmati keindahan berarti
manusia mempunyai pengalaman keindahan. Pengalaman keindahan biasanya bersipat
terlihat (visual) atau terdengar (auditory) walaupun tidak terbatas pada dua
bidang tersebut keindahan tersebut pada dasarnya adalah alamiah. Alam itu
ciptaan Tuhan.
nilai estetika
Estetika adalah salah satu
cabang filsafat. Secara sederhana, estetika adalah
ilmu yang membahas keindahan, bagaimana
ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Pembahasan lebih
lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai
sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa.
Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni.
Etimologi
Estetika berasal dari bahasa Yunani, αισθητική, dibaca
aisthetike. Kali pertama digunakan oleh filsuf Alexander Gottlieb Baumgarten pada 1735
untuk pengertian ilmu tentang hal yang bisa dirasakan lewat perasaan.
Pada masa kini estetika bisa berarti tiga hal, yaitu:
1.
Studi mengenai fenomena
estetis
2.
Studi mengenai
fenomena persepsi
3.
Studi mengenai seni
sebagai hasil pengalaman estetis
== Penilaian keindahan ==
Meskipun awalnya sesuatu yang indah dinilai dari aspek teknis dalam membentuk
suatu karya, namun perubahan pola pikir dalam masyarakat akan turut memengaruhi
penilaian terhadap keindahan. Misalnya pada masa romantisme
di Perancis, keindahan berarti kemampuan menyajikan sebuah keagungan. Pada masa
realisme,
keindahan berarti kemampuan menyajikan sesuatu dalam keadaan apa adanya. Pada
masa maraknya de Stijl di Belanda, keindahan berarti
kemampuan mengkomposisikan warna dan ruang dan kemampuan mengabstraksi benda.
Konsep the beauty and the ugly
Perkembangan lebih lanjut menyadarkan
bahwa keindahan tidak selalu memiliki rumusan tertentu. Ia berkembang sesuai
penerimaan masyarakat terhadap ide yang dimunculkan oleh pembuat karya. Karena
itulah selalu dikenal dua hal dalam penilaian keindahan, yaitu the beauty,
suatu karya yang memang diakui banyak pihak memenuhi standar keindahan dan the
ugly, suatu karya yang sama sekali tidak memenuhi standar keindahan dan
oleh masyarakat banyak biasanya dinilai buruk, namun jika dipandang dari banyak
hal ternyata memperlihatkan keindahan.
Sejarah penilaian keindahan
Keindahan seharusnya sudah dinilai begitu
karya seni pertama kali dibuat. Namun rumusan keindahan pertama kali yang
terdokumentasi adalah oleh filsuf Plato yang menentukan
keindahan dari proporsi, keharmonisan, dan kesatuan. Sementara Aristoteles menilai keindahan datang dari
aturan-aturan, kesimetrisan, dan keberadaan. keindahan seharusnya memenuhi
banyak aspek. aspek jasmani dan aspak rohani
Nilai Ekstrinsik dan Intrinsik Suatu
Keindahan.
Pengertian ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu
hal lainnya , yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu.
Contohnya : puisi, bentuk puisi yang terdiri dari bahasa, diksi,
baris, sajak, irama, itu disebut nilai ekstrinsik
Pengertian intrinsik adalah sifat baik dari benda yang bersangkutan, atau sebagai suatu tujuan,
ataupun demi kepentingan benda itu sendiri. Contohnya : pesan puisi yang ingin
disampaikan kepada pembaca melalui (alat benda) puisi itu disebut nilai
intrinsik .
Nilai keindahan instrinsik adalah
nilai bentuk seni yang dapat diindera dengan mata, telinga atau keduanya. Nilai
bentuk ini kadang juga disebut nilai struktur yaitu bagaimana cara menyusun
nilai-nilai ekstrinsiknya atau bahannya berupa rangkaian peristiwa. Semuanya
disusun begitu rupa sehingga menjadi sebuah bentuk yang berstruktur dan dinamai
nilai instrinsik. Cara menyusun bentuk tadi melahirkan sebuah cerita. Kumpulan
peristiwa yang sama oleh dua orang penulis mungkin saja disusun berdasarkan
urutan atau struktur yang berbeda, sehingga nilai seninya juga berbeda.
Demikian banyaknya hasil seni budaya
dengan menggunakan pendekatan ekstrinsik dan pendekatan intrinsik melalui
proses penghayatan kita dapat mengetahui alasan mereka atau seniman menciptakan
keindahan melalui hasil seni. Kalau Bagong Kussudiarjo ditanya mengapa ia
menciptakan berbagai kreasi tarian baru yang menggambarkan kehidupan nelayan,
petani, buruh pabrik, tentu ada berbagai macam jawaban mungkin ia ingin
mengabadikan kegiatan masing-masing pekerjaan itu pada zamannya. Karena kelak
apabila teknologi maju memasuki wilayah itu kegiatan mereka itu akan lain
bentuknya. Atau mungkin ia ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa keindahan
itu tidak hanya dapat di kota-kota saja, dan yang menggemari keindahan itu
bukan hanya para cendikiawan saja, tetapi di masyarakat, nelayan, buruh pabrik
dan petani yang setiap hari berjuang demi sesuap nasi-pun merindukan keindahan.
Kontemplatif
berasal dari Bahasa Latin (contemplore) berarti merenung dan memandang.
Kontemplatif merupakan cara hidup yang mengutamakan kehidupan penuh ketenangan,
bermati raga, dan bertapa, sehingga dapat berdoa dan bersemadi dengan lebih
mudah. Ordo atau kongregasi dalam Gereja Katolik Roma
yang mengutamakan segi kehidupan religius semacam ini disebut ordo atau
kongregasi kontemplatif. Sementara dalam Gereja Katolik Roma
ada ordo atau kongregasi yang menekankan hidup aktif.
·
RENUNGAN
· Renungan
berasal dari kata renung; artinya diam-diam memikirkan sesuatu, atau memikirkan
sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan adalah hasil merenung. Dalam merenung
untuk menciptakan seni ada beberapa teori antara lain : teori pengungkapan,
teorimetafisik dan teori psikologis.
TeoriPengungkapan. Dalil teori ini ialah bahwa “arts is an expresition of human feeling” ( seni adalah suatu pengungkapan dari perasaan manusia) Teori ini terutama bertalian dengan apa yang dialami oleh seorang seniman ketika menciptakan karya seni. Tokoh teori ekspresi yang paling terkenal ialah filsuf Italia Benedeto Croce (1886-1952) Beliau antara lain menyatakan bahwa “Seni adalah pengungkapan pesan-pesan) expression adalah sama dengan intuition, dan intuisi adalah pegnetahuan intuitif yang diperoleh melalui penghayatan tentagn hal-hal individual yang menghasilkan gambaran angan-angan (images).”
TeoriPengungkapan. Dalil teori ini ialah bahwa “arts is an expresition of human feeling” ( seni adalah suatu pengungkapan dari perasaan manusia) Teori ini terutama bertalian dengan apa yang dialami oleh seorang seniman ketika menciptakan karya seni. Tokoh teori ekspresi yang paling terkenal ialah filsuf Italia Benedeto Croce (1886-1952) Beliau antara lain menyatakan bahwa “Seni adalah pengungkapan pesan-pesan) expression adalah sama dengan intuition, dan intuisi adalah pegnetahuan intuitif yang diperoleh melalui penghayatan tentagn hal-hal individual yang menghasilkan gambaran angan-angan (images).”
Seorang tokoh lainnya adalah Leo Tolstoi dia
menegaskan bahwa kegiatan seni aalah memunculkan dalam diri sendiri suatu
perasaan yagn seseorang telah mengalaminya dan setelah memunculkan itu kemudian
dengan perantaraan berbagai gerak, garis, warna, suara dan bentuk yang
diungkapkan dalam kata-kata memindahkan perasaan itu sehingga orang-orang
mengalami perasaan yang sama.
Teori Metafisik
Teori seni yang bercotak metafisik merupakan salah satu contoh teori yang tertua, yakni berasal dari Plato yang karya-karyanya untuk sebagian membahas estetik filsafat, konsepsi keindahan dari teori seni. Mengenai sumber seni Plato mengungkapkan suatu teori peniruan (imitation teori). Ini sesuai dengan metafisika Plato yang mendalikan adanya dunia ide pada tarat yang tertinggi sebgai realita Ilahi. Pada taraf yang lebih rendah terdapat realita duniawi ini yang merupakan cerminan semu dan mirip realita ilahi. Dan karyu seni yang dibuat manusia adalah merupakan mimemis (tiruan) dari ralita duniawi
Teori Psikologis
Para ahli estetik dalam abad modern menelaah teori-teori seni dari sudut hubungan karya seni dan alam pikiran penciptanya dengan mempergunakan metode-metode psikologis. Misalnya berdasarkan psikoanalisa dikemukakan bahwa proses penciptaan seni adalah pemenuhan keinginan-keinginan bawah sadar dari seseorang seniman. Sedang karya seni tiu merupakan bentuk terselubung atau diperhalus yang wujudkan keluar dari keinginan-keinginan itu. Teori lain lagi yaitu teori permainan yang dikembangkan oleh Fredrick Schiller (1757 -1805) dan Herbert Spencer ( 1820 – 1903 ) menurut Schiller, asal seni adalah dorongan batin untuk bermain-main (play impulse) yang ada dalam diri seseorang. Seni merupakan semacam permainan menyeimbangkan segenap kemampuan mental manusia berhubungan dengan adanya kelebihan energi yang harus dikeluarkan. Dalam teori penandaan (signification theory) memandang seni sebagai lambing atau tanda dari perasaan manusia.
Teori Metafisik
Teori seni yang bercotak metafisik merupakan salah satu contoh teori yang tertua, yakni berasal dari Plato yang karya-karyanya untuk sebagian membahas estetik filsafat, konsepsi keindahan dari teori seni. Mengenai sumber seni Plato mengungkapkan suatu teori peniruan (imitation teori). Ini sesuai dengan metafisika Plato yang mendalikan adanya dunia ide pada tarat yang tertinggi sebgai realita Ilahi. Pada taraf yang lebih rendah terdapat realita duniawi ini yang merupakan cerminan semu dan mirip realita ilahi. Dan karyu seni yang dibuat manusia adalah merupakan mimemis (tiruan) dari ralita duniawi
Teori Psikologis
Para ahli estetik dalam abad modern menelaah teori-teori seni dari sudut hubungan karya seni dan alam pikiran penciptanya dengan mempergunakan metode-metode psikologis. Misalnya berdasarkan psikoanalisa dikemukakan bahwa proses penciptaan seni adalah pemenuhan keinginan-keinginan bawah sadar dari seseorang seniman. Sedang karya seni tiu merupakan bentuk terselubung atau diperhalus yang wujudkan keluar dari keinginan-keinginan itu. Teori lain lagi yaitu teori permainan yang dikembangkan oleh Fredrick Schiller (1757 -1805) dan Herbert Spencer ( 1820 – 1903 ) menurut Schiller, asal seni adalah dorongan batin untuk bermain-main (play impulse) yang ada dalam diri seseorang. Seni merupakan semacam permainan menyeimbangkan segenap kemampuan mental manusia berhubungan dengan adanya kelebihan energi yang harus dikeluarkan. Dalam teori penandaan (signification theory) memandang seni sebagai lambing atau tanda dari perasaan manusia.
·
KESERASIAN
Apa itu keserasian? Keserasian adalah
perbandingan antar kedua belah sesuatu menjadi sesuatu yang cocok. Anda menaruh
vas bunga di atas meja ruang tamu, maka kedua hal tersebut adalah cocok. Anda
menaruh palu dan dan kunci di tempat kotak peralatan, menaruh keyboard di depan
monitor komputer, meletakkan selimut di atas kasur, itu merupakan bagian dari
ke serasian, karena menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Lain halnya
jika anda mencoba untuk menaruh palu di depan komputer, meletakkan vas di atas
selimut, dan meletakkan selimut di dalam kotak peralatan. Itu merupakan hal
yang tidak serasi. Serasi itu bisa dikatakan bukan hanya sesuatu yang cocok dan
wajar, namun sesuatu yang memiliki nilai lebih dari wajar.
Keserasian Berasal dari kata “serasi”
artinya cocok atau sesuai, memilki faktor perpaduan dan keseimbangan.
Dalam hubungannya dengan keindahan, keserasian memiliki makna perpaduan antara berbagai unsur yang menjadi satu sehingga menimbulkan satu bentuk keindahan. Sehingga keserasian memiliki hubungan yang erat kaintannya dengan keindahan, tanpa adanya keserasian, keindahan tidak akan terwujud dalam sebuah karya atau benda yang diciptakan manusia dalam tujuan estetika.
Dalam hubungannya dengan keindahan, keserasian memiliki makna perpaduan antara berbagai unsur yang menjadi satu sehingga menimbulkan satu bentuk keindahan. Sehingga keserasian memiliki hubungan yang erat kaintannya dengan keindahan, tanpa adanya keserasian, keindahan tidak akan terwujud dalam sebuah karya atau benda yang diciptakan manusia dalam tujuan estetika.
Keserasian sangat berhubungan dengan keindahan,
sesuatu yang serasi akan tampak indah. Dalam keselarasan seseorang memiliki
perasaan seimbang, dan mempunyai cita rasa akan sesuatu yang berakhir dan
merasa hidup sesaat ditengah-tengah kesempurnaan yang menyenangkan hati .
Keserasian adalah kecocokan yang mengandung unsur perpaduan, pertentangan,
ukuran dan kesimbangan, yang terdiri dari:Teori Objectif dan Teori
Teori Objectif
berpendapat bahwa keindahan atau ciri-ciri yang menciptak nilai estetika adalah
sifat (kulitas) yang memang melekat dalam bentuk indah yang bersangkutan,
terlepas dari orang yang mengamatinya.Pendukung teori objectif adalah Plato,
Hegel
Teori Subjectif
menyatakan bahwa ciri-ciri yang menciptakan keindahan suatu benda itu tidak
ada, yang ada hanya perasaan dalam diri sesorang yang mengamati suatu benda.
Pendukung nya adalah Henry Home, Earlof Shaffesburry
Teori Perimbangan Dalam arti yang terbatas yakni secara kualitatif yang
di ungkapkan dengan angka-angka, keindahan hanyalah kesan yang subjectif
sifatnya dan berpendapat bahwa keindahan sesungguhnya tercipta dan tidak ada
keteraturan yakni tersusun dari daya hidup, penggembaraan, pelimpahan dan
pengungkapan perasaan
Asas Keserasian
Asas Keserasian mengandung pengertian harmoni dalam
interaksi antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam penyelenggaraan
pekerjaan konstruksi yang berwawasan lingkungan untuk menghasilkan produk yang
berkualitas dan bermanfaat tinggi
sumber:
http://id.wikipedia.org
http://www.katailmu.com
http://djuriatun.blogspot.com
http://andiidian.blogspot.com
http://ubayotaku.blogspot.com
http://www.katailmu.com
http://djuriatun.blogspot.com
http://andiidian.blogspot.com
http://ubayotaku.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar