Manusia dan Harapan
FIKRI AZHARI RABBANI
121117345
BAB I
FIKRI AZHARI RABBANI
121117345
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Harapan berasal dari kata harap yaitu keinginan supaya sesuatu terjadi atau
sesuatu terjadi atau suatu yang belum terwujud. Kata orang manusia tanpa
harapan adalah manusia yang mati sebelum waktu-nya. Bisa jadi, karena harapan
adalah sesuatu yang hendak kita raih dan terpampang dimuka. Hampir sama dengan
visi walau dalam spektrum sederhana, harapan merupakan cip-taan yang kita buat
sebagai sesuatu yang hendak kita raih. Jadi hidup tanpa harapan adalah hidup
tanpa visi dan tujuan.
Maka bila manusia yang hidup tanpa harapan pada hakekatnya dia sudah mati.
Harapan bukanlah sesuatu yang terucap dimulut saja tetapi juga berangkat dari
usaha. Dia adalah ke-cenderungan batin untuk membuat sebuah rencana aksi,
peristiwa, atau sesuatu menjadi lebih bagus. Sederhananya, harapan membuat kita
berpikir untuk melakukan sesuatu yang lebih baik untuk meraih sesuatu yang
lebih baik.
Harapan dan rasa optimis juga memberikan kita kekuatan untuk melawan setiap
hambatan. Seolah kita selalu mendapatkan jalam keluar untuk setiap masalah.
Seolah kita punya kekuatan yang lebih untuk siap menghadapi resiko. Ini kita
sebut sebagai perlawanan. Orang yang hidup tanpa optimisme dan cenderung pasrah
pada realita maka dia cenderung untuk bersikap pasif, Oleh karena itu dalam
makalah ini kita dapat mengetahui lebih dalam tentang manusia dan harapan.
B. PEMBATASAN MASALAH
Agar tidak terjadi kesalahpahaman maka pembahasan masalah kami membatasi
dan menetapkan objeknya Sbb : definisi harapan , harapan sebagai fenomena
nasional, kepercayaan,manusia dan harapan,nilai-nilai budaya sebagai tolak ukur
dan harapan terakhir
C. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pembatasan masalah diatas, kami merangkum beberapa rumusan
masalah yang diangkat antara lain :
1.
Pengertian dan makna
harapan
2.
Harapan sebagai fenomena
nasional
3.
kepercayaan
4.
manusia dan harapan
5.
nilai-nilai budaya sebagai tolak ukur
6.
harapan terakhir
D. TUJUAN PENULISAN
Penulisan makalah mengenai manusia dan tanggungjawab ini mempunyai tujuan
antara lain :
1.
Mengetahui dan memahami
makna harapan
2.
Mengetahui dan memahami makna harapan sebagai fenomena
nasional
3.
Mengetahui dan memahami
makna kepercayaan
4.
Mengetahui dan memahami
makna manusia dan harapan
5.
Memahami makna nilai-nilai
budaya sebagai tolak ukur
6.
Memahami harapan
terakhir
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi harapan
Harapan berasal dari kata harap yaitu keinginan supaya sesuatu terjadi atau
sesuatu terjadi atau suatu yang belum terwujud. Harapan dapat diartikan sebagai
menginginkan sesuatu yang dipercayai dan dianggap benar dan jujur oleh setiap
manusia dan harapan agar dapat dicapai ,memerlukan kepercayaan kepada diri
sendiri,kepercayaan kepada orang lain dan kepercayaan kepada TUHAN.
Contoh;Budi seorang mahasiswa universitas terbuka,ia belajar dengan rajin
dengan harapan agar nantinya sewaktu ujian semester ia memperoleh nilai A.
Menurut kodratnya dalam diri manusia terdapat 2 dorongan,yaitu dorongan
kodrat serta dorongan kebutuhan hidup.terkait dengan kebutuhan manusia
tersebut, abraham maslow mengkategorikan kebutuhan manusia menjadi 5 macam atau
disebut juga 5 harapan manusia, yaitu;
1. harapan untuk memperoleh kelangsungan
hidup
2. harapan untuk memperoleh keamanan
3. hak untuk mencintai dan dicintai
4. harapan diterima lingkungan
5. harapan memperoleh perwujudan cita-cita
Dalam mencukupi kebutuhan kodrat maupun kebutuhan, manusia membutuhkan
orang lain
B.
HARAPAN SEBAGAI FENOMENA NASIONAL
Artinya harapan ialah sesuatu yang wajar berkembang dalam diri manusia
dimanapun berada. Mengutip pandangan A.F.C. Wallace dalam bukunya culture and
personality , mas abhoe dhari menegaskan bahwa kebutuhan merupakan salah satu
isi pokok dari unsur kepribadian yang merupakan sasaran dari kehendak, harapan
,keinginan,serta emossi seseorang. kebutuhan indifidu dapat dapat dijabarkan
lebih lanjut menjadi:
a. kebutuhan
organik individu
1. kebutuhan individu bernilai positive
2. kebutuhan individu bernilai negative
b. Kebutuhan psikologi
individu
1. kebutuhan psikologi indifidu bersifat positif
C.
KEPERCAYAAN
Kepercayaan berasal dari kata percaya,artinya mengakui atau meyakini akan
sesuatu kebenaran. Kepercayaan ialah hal-hal yang berhubungan dengan pengakuan
atau keyakinan akan kebenaran. Kebenaran menurut Peodjawiyatna adalah merupakan
cita – cita orang yang tahu, dalam hal ini kebenaran merupakan kebenaran logis,
sehingga manusia selalu memilih sebelum melakukan tindakan apakah tindakan ini
salah atau benar menurut keyakinannya.
Dalam bidang logika kebenaran ialah persesuaian antara tahu dan objek yang
diketahui (kebenaran logis). kebenaran logis disebut juga kebenaran objektif
dan kebenaran etis juga disebut kebenaran subjektif. Jika tidak ada persesuaian
antara putusa dan objeknya yang diketahui, maka terdapat dua kemungkinan,
yaitu:
a.
orang yang mengutarakan
putusan keliru
b.
orang yang mengutarakan
putusan sengaja mengutarakan tidak sesuai dengan realita yang diketahuinya.
Dasar kepercayaan ialah kebenaran dan sumber kebenaran adalah manusia, oleh
karena itu keepercayaan dibedakan atas:
a.
kepercayaan pada diri
sendiri, yaitu kepercayaan yang harus ditanamkan pada setiap pribadi manusia.
hakikatnya kepercayaan kepada tuhan Yang Maha Esa.
b.
Kepercayaan pada orang
lain, yaitu percaya pada kata hatinya yang berbentuk pada perbuatan kebenaran
kepada orang lain. Misalnya pada saudara, teman, orang tua atau siapa saja.
c.
Kepercayaan pada
pemerintah
d.
kepercayaan kepada
tuhan, yaitu meyakini bahwa manusia diciptakan oleh tuhan dan manusia harus
bertakwa pada tuhannya. Salah satu cara bertakwa adalah mengukuhkan imannya
bahwa tuhan merupakan zat yang merupakan kebenaran mutlak
D.
Manusia dan Harapan
Harapan itu bersifat manusiawi dan dimiliki semua orang. Dalam hubungannya
dengan pendidikan moral, untuk mewujudkan harapan perlu di wujudkan hal – hal
sebagai berikut:
a. harapan apa yang baik
b. bagaimana mencapai harapan itu
c. bagaimana
bila harapan itu tidak tercapai.
Jika manusia mengingat bahwa kehidupan tidak hanya di
dunia saja namun di akhirat juga, maka sudah selayaknya “harapan” manusia untuk
hidup di kedua tempat tersebut bahagia. Dengan begitu manusia dapat
menyelaraskan kehidupan antara dunia dan akhirat dan selalu berharap bahwa hari
esok lebih baik dari pada hari ini, namun kita harus sadar bahwa harapan tidak
selamanya menjadi kenyataan.
E.
Nilai – Nilai Budaya Sebagai Tolak Ukur Harapan
Dalam hasil budaya yang berupa sastra, dapat dihayati adanya kandungan
nilai budaya yang dibawa penulisnya sebagai gagasan utama. Dalam sastra jawa
misalnya antara lain terdapat nilai budaya meliputi:
a. nilai
kejuangan dan semangat pengorbanan,
yaitu nilai perjuangan sebagai tolak ukur dan diharapkan dimiliki
masyarakat, seperti kesetiaan, kesungguhan, kedisiplinan,dll
b. nilai kerumahtanggaan
yaitu nilai yang diharapkan berkembang dalam etiap keluarga.
c. Nilai kemandirian kaum wanita
Yaitu, Nilai yang diharapkan dapat dimiliki setiap wanita.
F.
Harapan Terakhir
Dalam hidup di dunia, manusia didadapkan pada persoalan yang beragam baik
itu masalah positif maupun negative. Untuk menghadapi persoalan hidup tersebut
manusia perlu belajar dari manusia lainnya baik formal maupun informal agar
memiliki kehidupan yang sejahtera menurut Aristoteles, hidup dan kehidupan itu
berasal dari generation spontanea, yang berarti kehidupan itu terjadi dengan
sendirinya. Kebutuhan manusia terbagi atas kebutuhan jasmani dan kebutuhan
rohani. Ada yang dalam pandangan hidupnya hanya ingin memuaskan kehidupan
duniawi namun juga ada yang sebaliknya. Terkait dengan tingkat kesadaran
kehidupan beragama, manusia akan semakin yakin bahwa mereka akan mati. Dunia
serba gemerlap hanya akan ditinggalkan dan akan hidup abadi di alam akhirat.
Dengan pengetahuan serta pengertian agama tentang adanya kehidupan abadi di
akhirat, manusia menjalankan ibadahnya. Ia akan menjalankan perintah Tuhan
melalui agama, serta menjauhkan diri dari larangan yang diberikan-Nya. Manusia
menjalankan hal itu karena sadar sebagai makhluk yang tidak berdaya di hadapan
Tuhan. Kehidupan dunia yang sifatnya sementara dikalahkannya demi kehidupan
yang abadi di akherat karena tahu bagaimana beratnya siksaan di neraka dan
bagaimana bahagianya di surga. Kebaikan di surga yang abadi inilah yang
merupakan harapan terakhir manusia.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Harapan dapat diartikan sebagai
menginginkan sesuatu yang dipercayai dan dianggap benar dan jujur oleh setiap
manusia dan harapan agar dapat dicapai ,memerlukan kepercayaan kepada diri
sendiri,kepercayaan kepada orang lain dan kepercayaan kepada TUHAN
2. harapan ialah sesuatu yang wajar
berkembang dalam diri manusia dimanapun berada
3. Kepercayaan ialah hal-hal yang berhubungan
dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran
4. Harapan itu bersifat manusiawi dan
dimiliki semua orang
5. Kebaikan di surga yang abadi inilah yang
merupakan harapan terakhir manusia.
SARAN
Harapan membuat manusia lebih memiliki semangat hidup, setiap manusia
memiliki harapan yang berbeda-beda, jika kalian memiliki harapan, janganlah
kalian anggap harapan itu hanya seakan angan, tetapi jadikanlah harapan itu,
sebuah sesuatu keinginan yang sangat anda ingin gapai, dengan begitu, proses anda
dalam meraih harapan tersebut akan lebih mudah tergapai.
DAFTAR PUSTAKA
Tri Prasetya, Drs.
Joko, dkk. 1991. Ilmu Budaya Dasar ; Jakarta. Rineka Cipta
Widagdo, Drs. Djoko, dkk. 2003. Ilmu
Budaya Dasar; Jakarta. Bumi Aksara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar